Pretalk Hipnosis
Hipnosis dalam prosesnya memerlukan komunikasi dua arah antara klien dan hipnotis serta komunikasi antara klien dengan pikiran bawah sadarnya. Sebagai hipnotis kita hanya bisa mengusahakan komunikasi antara kita dan klien sedangkan komunikasi internal dalam diri klien adalah di luar kendali kita termasuk keputusan klien untuk menerima atau menolak arahan dari kita.
Komunikasi kita dengan klien baik secara verbal maupun non verbal atau biasa disebut rapport merupakan unsur vital dalam memaksimalkan proses hipnosis. Komunikasi dalam hipnosis pasti dan harus dimulai sebelum proses hipnosis berlangsung hingga proses hipnosis selesai. Proses komunikasi sebelum proses hipnosis ini disebut dengan pre talk.
Pre talk adalah kunci keberhasilan hipnosis dimana hipnotis mulai membangun kepercayaan dan sudut pandang positif klien terhadap hipnosis dan seluruh manfaatnya. Kesalahan dalam pre talk adalah jaminan kegagalan dalam proses hipnosis tidak peduli betapa mahir anda menguasai teknik induksi maupun betapa kuat kepercayaan diri yang anda pancarkan. Karena pentingnya pre talk anda harus selalu meluangkan waktu anda untuk melakukannya. Jika anda berhasil melakukan proses hipnosis secara sempurna pada klien tanpa didahului oleh pre talk yang matang, percayalah keberhasilan anda lebih merupakan “kebetulan” daripada prestasi.
Ada beberapa tahapan pre talk yang harus anda ikuti sebelum proses hipnosis anda mulai bersama klien.
1. Telepon Pertama
Untuk kalangan hipnotis dan hipnoterapis profesional biasanya mereka menyediakan layanan telepon untuk memudahkan pengaturan jadwal dan konsultasi pra terapi. Jika anda bukan termasuk di dalam golongan ini anda boleh melewatkan bagian ini dan langsung menuju proses berikutnya. Telepon pertama dari calon klien merupakan jembatan menuju pada sesi terapi yang sesungguhnya. Aturannya adalah sebagai berikut :
Perkenalkan diri anda dulu sebelum klien bertanya.
Panggil calon klien dengan nama panggilannya. Tindakan ini menciptakan keakraban yang sangat kuat.
Berikan jawaban sesingkat dan sejelas mungkin
Sebutkan bahwa anda punya waktu beberapa menit untuk menjawab telepon dari calon klien tersebut. Ini membuat klien fokus pada inti pembicaraan dan tidak berbelit-belit.
Jangan menyela kalimat dari klien
Tidak peduli seberat apapun masalah yang diceritakan oleh klien sepanjang bisa dibantu dengan hipnosis, dengan suara yang jelas dan tegas jawablah, “Itu mudah sekali, saya sudah menangani masalah tersebut sepanjang karir saya”. Tindakan ini memberikan harapan dari diri klien dan sangat sesuai dengan aturan pikiran yang berbunyi, “Saat pikiran memerkirakan sesuatu akan terjadi maka kecenderungan itulah yang terjadi”.
2. Sesi Pertama
Dalam sesi pertemuan pertama tentunya sebelum dilakukan terapi ada dua tahap yang harus dilakukan yaitu :
Cerita dari klien
Penjelasan dari hipnotis
Pre talk
Karena sangat penting untuk diketahui secara jelas maka kita akan membahas kedua tahapan dari sesi pertama ini secara khusus.
1. Cerita dari klien
Anda pasti bertanya kenapa saya menuliskan kata cerita dan bukannya konsultasi. Begini, saat memutuskan untuk datang menjalani terapi hipnosis bersama anda tentunya dari rumahnya klien sudah punya tiga informasi dalam pikirannya. Ketiga informasi ini akan dikomunikasikan kepada kita sebagai cerita masalah, cerita penyebab dan cerita solusi. Ketiga cerita ini hanya berdasarkan pada rasio dan analisa pikiran sadar klien yang hampir selalu tidak menyentuh penyebab sebenarnya. Jika memang penyebab suatu masalah bisa ditemukan dengan pikiran sadar tentunya semua orang sudah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
a) Cerita masalah, klien menceritakan masalah yang dialaminya termasuk detailnya, emosi yang muncul, pengaruhnya pada fisik, pengaruhnya pada kehidupan klien dan banyak lagi yang biasanya berupa hiperbola. Klien tidak selamanya jujur saat bercerita, selalu ada bagian yang dihilangkan, disamarkan atau bahkan ditambahkan.
b) Cerita penyebab, klien berusaha meyakinkan kita bahwa masalah yang dihadapi sekarang karena A, B, C, D dan seterusnya. Semua yang diceritakan klien tentang penyebab masalahnya adalah proses pikiran sadar yang mencoba merumuskan struktur penyebab masalah klien dan tentu saja kita tahu bahwa pernyataan mereka hampir selalu salah.
c) Cerita solusi, sebagian klien mungkin sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi permasalahannya sebelum akhirnya datang menemui anda. Bahkan bisa jadi pernah ditangani oleh hipnotis lain tetapi belum berhasil. Pada tahap ini klien biasanya juga menceritakan hasil yang ingin dicapai dari sesi pertama yang dipercayakan kepada anda.
Saat klien memberikan tiga cerita ini kepada kita, ada beberapa hal yang harus anda lakukan :
1. Jadilah pendengar yang baik dengan antusiasme tinggi.
2. Saya sarankan anda memegang kertas dan pena selama mendengarkan cerita klien dan menggambarlah di kertas tersebut. Alihkan pikiran dan kreatifitas anda dari cerita klien, abaikan pernyataan mereka.
3. Jangan tanyakan lebih lanjut detail dari penyebab masalah klien, itu bukan urusan kita. Penyebab masalah klien yang sebenarnya pasti muncul di level emosional klien saat kita melakukan hipnosis.
4. Anda hanya fokus pada masalah inti klien dan output yang diinginkan oleh klien.
5. Jangan pernah menyalahkan atau menghakimi klien, klien datang kepada anda hanya untuk dibantu.
6. Batasi waktu klien bercerita agar fokus pada maslahnya dan mencegah kalimat yang berputar-putar.
2. Penjelasan dari hipnotis
Penjelasan dari hipnotis merupakan tahap dimana klien dan hipnotis meluruskan persepsi tentang hipnosis dan semua hal yang berhubungan dengan hipnosis sepanjang perlu untuk diketahui klien. Ada dua cara melakukan tahap ini yaitu menjawab pertanyaan klien jika ada dan atau langsung melakukan penjelasan pada klien jika tidak ada pertanyaan.
a. Bertanya pada klien
Saat menggunakan pendekatan ini kita bertanya langsung pada klien apakah ada pertanyaan sebelum proses hipnosis dimulai. Jika ada tugas anda adalah menjawab pertanyaan klien, gunakan pre talk singkat dan melanjutkan pada proses induksi hipnosis.
b. Menjelaskan kepada klien
Setelah menjawab semua pertanyaan klien lakukan penjelasan kepada klien tentang proses hipnosis yang akn dilakukannya bersama anda. Dalam memberikan penjelasan mengenai proses hipnosis, ada beberapa poin harus harus dicapai :
1. Menghilangkan miskonsepsi. Memberi gambaran proses hipnosis
2. Menghilangkan rasa takut
3. Memupuk kepercayaan klien terhadap kompetensi kita
4. Menciptakan harapan nyata bagi klien
Selalu lekatkan dipikiran anda, masalah terbesar yang mencegah seseorang menuju trance adalah penolakan dan rasa takut. Gunakan penjelasan anda sebagai kesempatan untuk mengenalkan hipnosis secara benar sehingga rasa takut klien berganti dengan penerimaan dan kesediaan. Jika anda menemui klien yang mengatakan “Saya tidak bisa di hipnosis” atau kalimat semacam “Kekuatan pikiran saya sangat kuat” saya pastikan saat itu mereka sedang merasa ketakutan. Mereka takut dikuasai, takut hilang kendali, takut tidak bisa bangun lagi dan berbagai daftar takut yang lain. Berikan penjelasan yang benar dan rasa takut mereka akan hilang.
Saat masih berusia sembilan belas tahun dan masih duduk di bangku kuliah, saya pernah di undang oleh sebuah event organizer untuk menjadi instruktur pelatihan hipnosis di sebuah kota di Jawa Tengah. Saat itu ada sekitar empat puluhan peserta yang mengikuti pelatihan hipnosis tersebut dan usia mereka hampir semuanya di atas tiga puluh tahun. Jika anda menjadi salah satu peserta yang hadir saat itu, anda bisa bayangkan bagaimana cara para peserta memandang ke arah saya pada saat itu. Ketika saya akan mendemonstrasikan contoh induksi instan, ada seorang peserta bersedia maju ke depan membantu saya. Dengan suara lantang dan tegas dia langsung berkata kepada saya, “Saya tidak bisa di hipnotis oleh siapapun termasuk anda, kekuatan pikiran saya sangat kuat!” semua peserta terdiam memandang ke arah kami, dan bagi orang seusia saya pada saat itu kalimat ini lebih saya artikan sebagai tantangan daripada rasa takut klien. Saya segera menjawab, “Wow… luar biasa!!!. Anda memunyai kekuatan pikiran sekuat itu? Tentunya jika kekuatan pikiran tersebut anda gunakan untuk menerima hipnosis pasti anda bisa mencapai trance paling dalam yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain di ruangan ini”. Peserta tersebut diam sejenak dan tampak kebingungan karena tantangan yang tadinya diarahkan kepada saya sekarang berbalik menjadi tantangan untuk kekuatan pikirannya. Dan singkatnya peserta dengan “kekuatan pikiran” tersebut terkapar dilantai dengan menampakkan seluruh ciri trance hipnosis setelah menjalani induksi hipnosis kurang dari tujuh detik.
Setidaknya sekarang saya lebih paham bahwa peserta tersebut bukan menantang tapi takut dengan hipnosis dan satu-satunya alasan berhasilnya induksi saya kepadanya adalah karena peserta tersebut lebih takut dipermalukan oleh pernyataannya sendiri daripada rasa takut terhadap hipnosis. Pendekatan yang saya lakukan pada kisah tersebut kurang etis untuk digunakan tetapi minimal bisa membantu saya saat itu. Don’t try this at home!
Ada pula tipikal klien yang mengatakan bahwa mereka sudah memahami hipnosis dengan sangat jelas dan mereka tidak ada pertanyaan. Anda merasa nyaman dan melanjutkan pada tahap induksi dan 100% saya jamin anda gagal kecuali anda punya jatah mukjizat yang hanya bisa digunakan sekali seumur hidup. Klien yang tidak ada pertanyaan adalah klien dengan semua miskonsepsinya tentang hipnosis. Jika anda biarkan mereka menjalani proses lebih lanjut tanpa penjelasan maka mereka tetap memikirkan hipnosis sebagai bentuk dari penguasaan pikiran, kekuatan pandangan mata, ketidaksadaran dan sebagainya. Apabila anda menemui klien seperti ini anda harus tetap memberikan penjelasan hipnosis kepada klien bahkan walaupun mereka mengatakan sudah pernah menjalani proses hipnosis dengan hipnotis lain sebelumnya.
Untuk hasil maksimal, maka anda harus selalu berasumsi bahwa hipnotis yang di maksud oleh klien belum tentu melakukan pre talk yang benar walaupun dia sangat terkenal sekalipun!
Beberapa bulan yang lalu rekan saya menangani seorang klien yang mengalami kecemasan kronis. Klien datang membawa ketiga ceritanya dan plus cerita tambahan berupa pernyataan bahwa sebelumnya dia sudah pernah menjalani terapi hipnosis dengan hipnotis lain yang terkenal reputasinya di kota asal klien. Tentu saja klien ini dengan mantap mengatakan bahwa dia tidak ada pertanyaan. Mengingat, mengetahui dan meyakini reputasi hipnotis yang menangani klien tersebut sebelumnya, rekan saya langsung melakukan induksi hipnosis tetapi setiap kali mencapai medium hipnosis, klien langsung membuka mata dan berkata bahwa dia tidak terhipnosis. Kejadian ini berulang hingga enam kali dalam satu sesi terapi. Akhirnya rekan saya memutuskan untuk bertanya dan membicarakan sesi hipnosis yang sebelumnya.
Klien bercerita bahwa awalnya dia sering melihat tayangan hipnosis di televisi yang akhirnya diterjemahkan pikiran klien bahwa hipnosis adalah tidur dan ketidaksadaran. Saat menjalani terapi hipnosis sebelumnya, klien tidak mendapat pre talk yang sempurna karena klien tidak punya pertanyaan dan langsung menuju proses induksi. Hipnotis tersebut gagal membawa klien menuju trance dengan berbagai cara kemudian hipnotis tersebut menghentikan induksi dan mengatakan, “Anda termasuk jenis orang yang sulit di hipnosis. Mungkin anda adalah satu dari seribu. Saya akan memberitahu anda sesuatu, saya juga termasuk orang yang tidak bisa di hipnosis!”. Miskonsepsi klien tidak dihilangkan bahkan ditambah satu hambatan lagi dengan memberi sugesti bahwa klien sulit di hipnosis yang tentunya hanya menambah masalah dan penderitaan bagi klien. Setelah melakukan pre talk singkat dengan klien dengan mudah rekan saya menyelesaikan sesi terapi tersebut sesuai dengan tujuan kedatangan klien.
3. Contoh Pre Talk
Penggunaan pre talk bukanlah hal yang sangat baku dalam dunia hipnosis tetapi memiliki struktur yang jelas sehingga setiap keberhasilannya merupakan sebuah proses yang bisa dipelajari, diulang bahkan dikembangkan. pre talk yang tidak bisa dipelajari, diulang keberhasilannya dan dikembangkan merupakan bom waktu yang nantinya merepotkan anda sebagai seorang hipnotis dan tentunya juga bisa mengecewakan klien anda.
Berikut ini adalah contoh pre talk singkat yang selalu saya gunakan pada setiap klien saya dengan asumsi bahwa semua pertanyaan klien sudah terjawab. Dalam contoh ini klien saya bernama Hendi.
“Baiklah Hendi, sebelum kita memulai proses hipnosis saya akan menjelaskan beberapa hal kepada anda.
Hipnosis adalah proses yang sangat mudah, aman dan efektif.
Saya tidak bisa menghipnosis anda tetapi anda sendiri yang mengizinkan dan mengirim diri anda menuju trance hipnosis.
Ibaratkan anda menyetir mobil pribadi anda menuju kota tertentu tetapi anda tidak tahu jalannya, nah tugas saya memberi tahu anda jalan mana yang harus anda lalui agar bisa mencapai tujuan dengan cepat, aman dan nyaman. Pilihan ada di tangan anda, jika pada sebuah pertigaan saya meminta anda belok kanan dan anda memutuskan untuk belok kiri maka itu diluar kenampuan saya dan saya tidak bisa membantu anda.
Saya hanya bisa membantu anda jika anda mengikuti dengan tepat semua arahan dari saya, keberhasilan hipnosis 100% berasal dari kerjasama anda.
Dalam trance hipnosis anda tetap memiliki kesadaran dan kontrol penuh terhadap diri anda, anda bisa mendengar, merasa, mengingat dan memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan proses hipnosis kapanpun anda mau tetapi bukan itu tujuan anda berada di sini sekarang.
Saya memerlukan kesadaran anda untuk berkomunikasi dan memberi arahan kepada anda. Tidak sadar hanya terjadi saat seseorang pingsan dan saya tidak akan membuang waktu untuk mencoba berkomunikasi dengan orang yang pingsan.
Jika nanti anda mendengar saya mengatakan kata tidur, maka yang saya maksudkan bukanlah tidur pulas seperti yang anda lakukan di malam hari tetapi saya maksudkan agar anda meniatkan pikiran dan tubuh anda beristirahat dan menjadi sangat santai.
Jika anda merasa sugesti saya bertentangan dengan norma dan agama yang anda anut maka pikiran bawah sadar anda pasti langsung menolaknya.
Anda hanya menerima dan menjalankan sugesti yang bermanfaat bagi diri anda.
Nanti di dalam proses hipnosis jika anda merasa tubuh anda gatal segera lakukan tindakan yang anda perlukan, jika posisi anda kurang nyaman segera sesuaikan agar senyaman mungkin dan bahkan jika anda ingin buang angin segera lakukan saja tanpa harus meminta izin kepada saya.
Setelah kita mulai prosesnya berarti anda sudah tidak berhak bertanya lagi kepada saya, untuk terakhir kalinya apakah ada pertanyaan?”
Jika klien memberikan pertanyaan segera jawab dengan singkat dan jelas. Tawarkan juga apabila klien ingin ke kamar mandi dahulu sebelum proses hipnosis dilakukan. Untuk menghindari gangguan pastikan klien sudah melepas kacamatanya, melonggarkan bajunya dan mematikan handphone miliknya.
“Baiklah kita segera mulai, yang perlu anda lakukan adalah mengikuti arahan saya apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih maka semuanya pasti berjalan lancar, cepat dan nyaman.
Anda siap menjalani proses hipnosis bersama saya?”
Kalimat pertanyaan terakhir ini disebut sebagai kontrak hipnosis. Ada kalanya setelah semua pre talk yang dijalani, klien yang sudah memiliki konsep jelas hipnosis dari kita malah memutuskan untuk tidak meneruskan menuju proses hipnosis. Mungkin dari awal mereka sengaja datang untuk dikuasai dan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya. Percayalah bahwa masih ada jenis klien seperti ini di Indonesia karena saya pernah menemui beberapa diantaranya. Tentunya dalam keadaan klien sangat membutuhkan bantuan hipnosis kita bisa saja sedikit memodifikasi pre talk kita menyesuaikan kepercayaan dan kebutuhan klien tetapi dalam kasus ini miskonsepsi hipnosis akan semakin berlarut-larut dan pandangan masyarakat tentang hipnosis akan selalu terbelokkan ke arah mistis.
Setelah kontrak hipnosis ditanggapi klien dengan persetujuannya maka bisa segera dilanjutkan dengan induksi hipnosis. Untuk tahap latihan anda bisa menggunakan contoh pre talk saya atau anda juga bisa membuat pre talk sendiri yang paling pas untuk anda dan klien anda. Pastikan pre talk yang anda buat mudah dimengerti oleh klien sehingga tidak menimbulkan kebingungan baru atau salah pengertian dari klien.


