Penanganan Abreaksi
Nah jika kita menemui klien yang mengalami abreaksi, apa yang harus kita lakukan? Sangat mudah, ikutilah empat cara berikut ini secara berurutan dan semua pasti beres.
Tetap tenang
klien menganggap anda adalah orang yang kompeten mengatasi dan mengontrol semua hal yang terjadi dalam proses hipnosis. Jika anda menyiratkan ketakutan atau kebingungan anda lewat suara, nada dan tanda lain maka klien pasti bisa merasakanya. Berbicaralah seperti biasa tetapi jika klien menjerit histeris sebaiknya anda keraskan suara anda sehingga cukup untuk didengar klien dengan jelas ditengah kebisingan yang sedang terjadi.
Hindari menyentuh klien
Biasanya saya meletakkan telapak tangan kiri saya pada bahu kanan klien dari awal sampai akhir sebuah sesi terapi. Jika abreaksi terjadi ditengah sesi terapi saya segera melepaskan tangan saya dari klien. Jika dari awal kita tidak menyentuh klien maka kita hindari sentuhan tersebut terjadi saat klien mengalami abreaksi.
Contohnya jika kita menyentuh bahu kanan klien saat abreaksi masih berlangsung maka kita sudah membuat sebuah anchor negatif. Enam bulan setelah kejadian tersebut mungkin klien adalah manusia dengan kehidupan yang bahagia dan sedang berada ditengah sebuah pesta yang menyenangkan. Muncul seorang rekan klien yang datang menyapa dan meletakkan telapak tangannya di bahu kanan klien sebagai tanda keakraban. Saat itu juga anchor negatif terpicu dan klien mengalami kembali abreaksi di tengah pesta tersebut. Saya jamin itu bukan hal yang menyenangkan bagi klien.
Ucapkan sembilan kata
Saat terjadi abreaksi segera katakan sembilan kata untuk menghentikan abreaksi. Sembilan kata tersebut adalah “Sekarang semua lenyap dan anda kembali memerhatikan pernapasan anda”. Biasanya butuh beberapa detik sampai dua menit sebelum klien kembali tenang sepenuhnya tergantung seberapa kuat abreaksi yang terjadi. Sementara itu tunggulah klien dengan tenang dan santai.
Terkadang klien datang kepada hipnotis dengan berbagai beban hidup yang dialaminya tetapi klien tampil dengan wajah yang ceria dan dengan senyuman lebar dibibirnya. Mungkin seorang klien mengalami pelecehan di masa kecilnya, mengalami kekerasan di usia berikutnya, merasa terkucilkan oleh lingkungannya dan akhirnya memutuskan menikah dengan orang yang salah. Semua emosi negatif ditekan sekuat tenaga dan ini bagaikan gunung berapi di tengah lautan yang bisa meledak kapan saja ke permukaan.
Jika kita menemui klien seperti contoh tersebut yang kemudian menangis tersedu-sedu saat mengalami abreaksi ada baiknya kita tenangkan dahulu klien sebelum menggunakan sembilan kata. Katakanlah “Teruskanlah menangis dan biarkan seluruh perasaan anda menjadi semakin tenang dan nyaman…” kemudian beri waktu tenang bagi klien.
Apabila kita masih perlu melakukan sesuatu dengan klien maka kita lanjutkan dengan mengatakan sembilan kata. Tetapi jika kita sudah tidak ada kepentingan dengan trance yang dialami klien maka katakan kepada klien “Teruskan menangis sampai anda merasa sangat tenang dan sangat lega… Setelah itu anda bisa membuka mata anda dengan membawa semua ketenangan yang anda rasakan...”.
Patuhi kesepakatan
Jika klien datang kepada anda tidak untuk mengatasi sebuah masalah yang terkait sebagai penyebab terjadinya abreaksi maka jangan pernah ikut campur atau memberi tindakan terapi pada abreaksi yang terjadi. Kita hanya menangani masalah yang diutarakan dan disepakati bersama klien dalam pre talk.
Contohnya apabila klien datang untuk terapi berhenti merokok kemudian saat kita sedang melakukan regresi tiba-tiba muncul abreaksi yang berasal dari sebuah kejadian kekerasan fisik yang dialami klien dimasa lalu. Jika ternyata abreaksi yang muncul tidak terhubung dengan masalah yang ingin diatasi klien maka tenangkan dengan sembilan kata dan lanjutkan kembali terapi yang disepakati. Hargai privasi dari klien dengan mengabaikan abreaksi tersebut. Saya jamin klien menjadi sangat kecewa kepada anda jika anda berusaha melakukan sesuatu yang tidak pernah diharapkan oleh klien sebagai hasil terapi yang disepakati. Ingat bahwa niat baik harus di wujudkan dengan tindakan dan cara yang baik pula, cara terbaik untuk kasus ini adalah abaikan abreaksi klien.
Setelah sesi terapi berakhir kita tidak boleh membicarakan peristiwa abreaksi tersebut dan harus bersikap seolah tidak ada apapun yang ganjil dalam trance. Bila klien masih mengingat abreaksi hingga kembali kepaa kesadaran normal dan mengajak kita membicarakan abreaksi tersebut dengan keinginannya sendiri barulah kita boleh menanggapi. Kemampuan mengatasi abreaksi adalah modal bagi tumbuhnya kepercayaan diri kita sebagai hipnotis untuk menghadapi situasi apapun yang muncul dalam proses hipnosis.

